Pendidikan Antikorupsi di Era Revolusi Industri 4.0

Posted on

Pendidikan Antikorupsi

Tujuan besar pendidikan itu bukanlah cuma pengetahuan saja, melainkan juga tindakan.” (Herbert Spencer) Sudah tak terhitung lagi berapa banyak sekolah dan lembaga pendidikan di negeri ini didirikan. Juga tidak terhitung pula jumlah lulusan yang dihasilkan, seperti dokter, menteri, hakim, polisi, tentara, dosen, guru dan lain lain banyak juga yang tenaga profesional bergelar Ir, MA, PhD dan bahkan profesor. Tetapi, yang menjadi persoalan sekarang, kenapa Indonesia justru kian terpuruk serta dilanda korupsi yang cukup akut dan bahkan terkesan tak bisa disembuhkan lalu apa yang terjadi dengan pendidikan di negeri ini?

banyak Terbongkarnya kasus korupsi di sejumlah lembaga, dan badan pemerintahan, telah menjadi bukti bahwa “pendidikan” di negeri ini belum mampu menjadi obat mujarab dalam pemberantasan korupsi. Padahal, bukan rahasia lagi, mereka yang melakukan korupsi rata-rata orang-orang yang berpendidikan tinggi. sebab itu kita harus punya mental yang kuat dan semangat dalam belajar sehingga kita tidak terjerumus pada perbuatan korupsi

Sejarah mencatat, bahwa peranan pendidikan telah mengubah dunia dan peradaban. banyak tokoh besar dikenal sebagai orang-orang besar yang mampu mengubah bangsa dan dunia lewat jalur pendidikan yang disebarkan di generasi-generasi berikutnya seperti ; Plato , Confusius,  Socrates, Lao Tzu, Budha, serta Aristoteles, .

Lebih dari sekadar mengajarkan kebenaran dan ilmu pengetahuan, suatu hal yang penting diajarkan mereka adalah pentingnya pendidikan sebagai sarana penyadaran. meliputi Penyadaran diri, Penyadaran terhadap lingkungan, serta Penyadaran akan makna dan tujuan hidup. Socrates  menerapkan prinsip-prinsip universal dalam pengajarannya meliputi : prinsip keindahan, prinsip kebenaran, serta prinsip kebaikan yang melibatkan kesadaran anak didik. Prinsip-prinsip universal itu pula yang kemudian dilanjutkan oleh Plato.

antikorupsi
antikorupsi

Tokoh pendidikan yang mengumandangkan pentingnya penyadaran diri dari tujuan pendidikan adalah Foerster. Dia melihat tujuan pendidikan dengan menandaskan akan arti pembentukan karakter diri . Karena, dengan pembentukan karakter, akan memiliki mentalitas yang sangat kuat selain ditunjang dengan intelektualitas.

Baca juga :  1 Sony Sugema College Bimbel Terbaik Di Indonesia

Tujuan pendidikan dari  Foerster itu banyak dilupakan dalam penyelenggaraan pendidikan di negara kita ini sehingga korupsi meraja lela, meskipun lulusan dari universitas ternama dan punya gelar tinggi. tidak memiliki mentalitas yang kuat. Memang, tidak sedikit negeri ini memiliki orang yang berpengetahuan tinggi dan hebat dalam bidangnya tapi korupsi masih tidak bisa dikendalikan. Kenapa? Karena tiadanya karakter yang kuat dalam pribadi diri.

Penyenggaraan pendidikan negara kita lebih menitikberatkan pada “kecerdasan akal”, dan mengesampingkan emosi dan karakter. yang Akibatnya, tingginya tindakan koropsi di lembaga mana saja baik swasta maupun negeri.

Lebih parah lagi, sekarang banyak penyelenggaran pendidikan kemudian menjadi semacam industri. karena segalanya diukur dengan uang (materi). Alih-alih, pendidikan akan dapat menjadi ruang publik memberantas tindak korupsi, justru pendidikan sekarang banyak “sarat muatan korupsi”. Satu kenyataan yang sulit diingkari dan sudah jadi rahasia umum adalah “suap” dalam seleksi calon Pegawai Negeri Sipil. sampai sekarang masih saja begitu masih banyak oknum oknum yang belum sadar diri.

Itulah wajah pendidikan dinegeri ini yang kropos dan sarat akan muatan korupsi? Karena itulah, walaupun lulusan dari lembaga pendidikan di negara kita bertitel atau bergelar insinyur, master, doktor dan profesor maupun lainnya, tapi korupsi tetap berjalan terus tanpa dapat di cegah sejak dini. lalu Bagaimana cara membuat pendidikan kita menjadi sarana penyadaran, terutama dalam memberantas korupsi dan membangun mental yang kuat ? Pendidikan antikorupsi solusinya

Dengan wajah pendidikan kita yang sekarang buruk muka, maka sudah seharusnya digalakkan revolusi pendidikan. agar generasi berikutnya jadi lebih baik sadar diri dan punya mental yang kuat. Apalagi, sejak reformasi bergulir di negeri ini, nyaris pendidikan tak tersentuh gerakan reformasi pendidikan karakter. Salah satu upaya untuk melakukan reformasi pendidikan adalah dengan menerapkan pelajaran ‘antikorupsi’ sehingga sejak dini mengetahui bahaya koropsi.

Baca juga :  PTS ( Penilaian Tengah Semester ) Ganjil Kelas 4 SD I Bagian 2

Tentu, “pendidikan antikorupsi” ini merupakan aplikasi lebih jauh dari tujuan pendidikan yang di kumandangkan Foerster, di mana pembentukan karakter dengan memberikan penguatan komitmen diri, loyalitas dengan tidak menyontek saat ulangan, masuk sekolah “tepat waktu” tidak terlambat, disiplin dan melakukan tindakan berkepribadian yang baik.

Kalau pendidikan antikorupsi ini diterapkan di seluruh sekolah di negara kita sebagaimana yang telah diterapkan di negara Kamboja , tidak mustahil, korupsi di negeri ini akan dapat dicegah sejak dini lewat jalur pendidikan karakter. Oleh karena pendidikan antikorupsi harus di wujudkan dan diterapkan serta semua pihak harus ikut bersama mempropaganda betapa bahayanya korupsi,

karena Korupsi bisa merusak sendi bangsa , korupsi bisa menghancurkan bangsa ini. Karena dengan korupsi uang Negara habis yang mestinya untuk kepentingan bangsa dan Negara untuk kepentingan rakyat di makan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Untuk pihak bertanggung jawab dengan pencegahan korupsi, orang tua, bapak ibu, guru, pejabat , polisi , jaksa hakim , menteri semua harus bertanggung jawab. Apa jadinya jika makan sehari hari untuk anak diberi uang dari hasil korupsi. Apakah tidak kasihan pada anak istri memberi makan dari hasil korupsi, maka kita yang berada didunia pendidikan haruslah bersama dengan seluruh komponen pendidikan.

untuk selalu memberi peran dan andil dalam rangka menegakkan pendidikan antikorupsi melalui memberikan keteladanan tidak datang terlambat, keteladanan disiplin, keteladanan apapun , sampai pada pendirian kantin kejujuran, pendirian organisasi SPAK (Saya perempuan antikorupsi) lembaga peduli korupsi, melalui gerakan Lihat, Laporkan. Ini adalah upaya agar korupsi bisa dicegah bersama sama. Kedepan korupsi semoga tidak lagi menjadi momok bagi generasi penerus. antikorupsi penuh prestasi bukan sensasi.

Gravatar Image
Lahir di Majapahit yang sekarang lebih di kenal dengan nama Mojokerto. Menimba ilmu serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari hari dari Pengalaman hidup dan menjadi lebih baik.